Shinta Nur Fauziah Mahasiswi Semester 2 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiah Malang Lentera24.com - Indonesia membutuhkan ...
Lentera24.com - Indonesia membutuhkan perubahan cara pandang dalam pembangunan ekonomi agar berdaya saing di tingkat lokal, regional dan internasional. Menurut (Asrodin, 2019), perubahan perspektif pembangunan ekonomi diarahkan pada pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan melalui inovasi yang ditujukan pada integrasi ekosistem. Ekonomi biru adalah penggunaan ekologi sumber daya alam laut untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, kemakmuran dan mata pencaharian serta untuk melestarikan ekosistem laut.
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Membentang dari Sabang hingga Merauke, Indonesia memiliki kurang lebih 17 ribu pulau dengan luas total kurang lebih 7,81 juta kilometer persegi. Dari total luas wilayah tersebut, 3,25 juta kilometer persegi merupakan lautan dan 2,55 juta kilometer persegi merupakan zona ekonomi eksklusif. Dari keterangan tersebut bisa dikatakan bahwa laut merupakan kunci bagi kesejahteraan ekonomi Indonesia. Selain itu Indonesia menempati peringkat kedua sebagai negara dengan sektor perikanan terbesar di dunia.
Sumber daya laut Indonesia tidak hanya berpaku pada perikanan tetapi juga terdapat hal lain yang berpotensi di kelautan indonesia.
Ekonomi biru berusaha untuk mengelola potensi tersebut secara berkelanjutan agar tiap potensi dapat menopang perekonomian Indonesia. Berikut merupakan potensi laut Indonesia.
1. Perikanan
Industri perikanan Indonesia terbagi menjadi dua bagian yaitu perikanan tangkap dan budidaya. Penangkapan ikan dilakukan di laut, pantai dan di landas kontinen, ada juga di sungai dan danau. Perikanan budidaya dilakukan di darat di kolam atau cekungan air dan di badan air yang dipagari untuk mencegah organisme air yang dipelihara agar tidak melarikan diri. Potensi sektor perikanan Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di dunia, baik untuk penangkapan maupun budidaya, dengan potensi produksi berkelanjutan sekitar 67 juta ton per tahun (Romfiz, N.A, 2021).
2. Terumbu Karang
Indonesia memiliki luas terumbu karang 50.875 km2, terhitung 18% dari total luas terumbu karang dunia dan 65% dari total luas coral triangle. Adapun nilai ekonomis dari terumbu karang sebagai tempat penangkapan jenis biota laut baik konsumsi maupun hias, bahan bangunan, bahan baku farmasi dan sebagai tempat rekreasi.
3. Hutan Mangrove
Berdasarkan Peta Mangrove Nasional yang resmi dirilis oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tahun 2021, total luas hutan mangrove di Indonesia seluas 3.364.076 Ha. Hutan mangrove berfungsi sebagai habitat atau tempat berlindung binatang laut, hutan mangrove juga berfungsi sebagai stabilisator garis pantai, yang dikenal dapat mencegah erosi dari akibat hantaman ombak. Selain fungsi ekologis hutan mangrove juga memiliki fungsi ekonomis, yaitu nilai ekonomi dari kayu dan makhluk hidup yang dikandungnya. Karena kayu mangrove dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan penduduk, misalnya untuk kayu bakar, bangunan, batu bara, obat-obatan.
4. Wisata Bahari
Wisata bahari adalah setiap kegiatan rekreasi yang dilakukan di laut, meliputi wilayah pesisir, pulau-pulau sekitarnya, dan wilayah lautan dalam pengertian ini dipermukaan maupun di dalam atau pada prinsipnya termasuk taman laut. Pariwisata dapat meningkatkan perolehan devisa, menciptakan lapangan kerja, merangsang berkembangnya industri pariwisata, sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.
Jika potensi potensi di atas dikelola dengan konsep berkelanjutan maka tiap sektor akan mewujudkan kesejahteraan ekonomi indonesia. Melalui program Ekonomi Biru diharapkan terjadi pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional, lapangan kerja terserap, peningkatan devisa negara dan penerimaan pajak negara meningkat. ***