Andi Wahyudi Budi Dharma, Semester 2, Fakultas Ekonomi, Universitas Bangka Belitung Lentera24.com - Tak terbantahkan pertanyaan ini sulit u...
Lentera24.com - Tak terbantahkan pertanyaan ini sulit untuk dijawab. Sepakbola dan politik adalah dua bidang yang sering kali saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain. Sepakbola sendiri adalah salah satu olahraga terpopuler di dunia yang dimana paling diminati dari kalangan muda hingga tua. Hal ini tentu membentuk satu perasaan yang sama yaitu kecintaan terhadap sepakbola yang menjadi satu yaitu “penggemar sepak bola”. Dari hal tadi seharusnya sepakbola dapat menjadi pemersatu bukan malah memecah belah, dan dapat menjadi simbol perdamaian bukan malah menjadi sumber konflik.
Sejarah peristiwa antara sepakbola dan politik sudah banyak terjadi dimasa lampau, contoh yang paling terkenal pada saat piala dunia 2006 dimana pada saat itu terjadi di Pantai gading,Afrika barat. Striker yang terkenal pada saat itu, Didier Drogba yang merupakan seorang pemain legenda dari Pantai gading dan Chealsea berhasil membawa negaranya menuju piala dunia 2006, namun hal ini hampir hanya menjadi mimpi karena adanya konflik politik di negaranya yang meyebabkan perang saudara sejak tahun 2002. Drogba dalam konfrensi pers saat piala dunia 2006 meminta agar pihak yang berkonflik dinegaranya untuk berdamai paling tidak untuk sementara. Pada akhirnya pihak yang berkonflik pun melakukan gencatan senjata guna mendukung Drogba dan rekan setimnya,walaupun gencatan senjata tidak berlangsung lama dan konflik berlanjut namun apa yang dilakukan Drogba memunjukkan bukti nyata bahwa sepakbola dan politik dapat membuat perdamaian.
Peristiwa diatas membuktikan bahhwa sepakbola dan politik sulit untuk benar benar dipisahkan. Sama seperti yang baru ini terjadi di Indonesia dan piala dunia U-20 yang lalu. Hal ini bermula karena adanya penolakan terhadap Israel dari pelaku politik di Indonesia yang menyebabkan terjadinya pertimbangan oleh badan yang mengatur sepakbola didunia yaitu FIFA terhadap Indonesia sebagai tuan rumah Piala dunia U-20. Hal tersebut membuat Indonesia tidak bisa mengikuti Piala dunia U-20 lewat jalur tuan rumah. Tentu saja hal ini bukan hanya merugikan para pemain yang mimpinya harus terkubur dan pupus tetapi juga berdampak negatif pada ekonomi yang menelan kerugian sebesar Rp.3,5 triliun lebih.
Pemanfaatan politik dalam sepakbola sering kali dimanfaatkan oleh politisi untuk kepentingan politik mereka. Mereka menggunakan dukungan terhadap tim nasional atau klub ternama untuk memperoleh popularitas dan mendapatkan dukungan dari masyarakat. Hal ini terlihat dalam upaya politisi untuk terlibat secara langsung dalam pengelolaan klub atau menjalin hubungan dekat dengan pemain bintang. Meskipun ada beberapa manfaat yang bisa diambil dari keterlibatan politisi dalam sepakbola, tetapi tidak dapat melepas kemungkinan bahwa tidak ada penyalahgunaan kekuasaan atau intervensi politik yang merugikan suatu negara maupun klub sepakbola.
Sepakbola memiliki kekuatan untuk menyatukan orang-orang dari berbagai latar belakang, apalagi di Indonesia sepakbola merupakan olahraga paling popular yang dimana mayoritas pendukung sepakbolanya sangat cinta terhadap tim nasional indonesia. Tim nasional sering kali menjadi simbol identitas nasional dan kebanggaan bagi suatu negara. Pada saat yang sama, politik juga dapat memanfaatkan hal ini untuk memperkuat solidaritas nasional atau mengalihkan perhatian masyarakat dari isu-isu politik yang kontroversial. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menyadari bahwa pengaruh politik dalam sepakbola dapat memiliki dampak yang mendalam pada identitas nasional dan persatuan.
Tak hanya menjadi penyatu Sepakbola juga terkenal dengan masalah korupsi yang melibatkan pejabat federasi, klub, dan agen pemain. Korupsi dalam sepakbola menciptakan ketidakadilan, merusak sistem olahraga, dan merugikan para pemain, klub, dan penggemar. Dalam konteks politik, korupsi dalam sepakbola mencerminkan korupsi yang lebih luas dalam masyarakat dan lembaga pemerintahan contohnya seperti pengaturan skor. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan lembaga sepakbola untuk bekerja sama dalam memberantas korupsi ini agar olahraga tersebut tetap adil dan bermanfaat bagi semua pihak.
Di sisi lain, sepakbola juga bisa menjadi alat diplomasi yang efektif antara negara-negara. Pertandingan sepakbola antara negara-negara dapat menciptakan kesempatan untuk dialog dan memperkuat hubungan diplomatik antar negara. Dalam konteks politik global yang kompleks, sepakbola bisa menjadi jembatan untuk menjalin perdamaian, memperkuat hubungan internasional, dan mempromosikan nilai-nilai universal seperti perdamaian, kerjasama, dan persahabatan.
Sepakbola dan politik memiliki keterkaitan yang kompleks. Meskipun pengaruh politik dalam sepakbola dapat memiliki aspek positif dan negatif, Adanya pengaruh politik pada sepakbola menunjukkan betapa kompleksnya keterkaitan antara olahraga dan dunia politik. Penting untuk menjaga independensi sepakbola dari intervensi politik yang merugikan sepakbola itu sendiri. Meskipun ada keterkaitan antara politik dan sepakbola, penting untuk menjaga independensi dan integritas sepakbola sebagai olahraga. Organisasi sepakbola, seperti FIFA telah berusaha untuk memisahkan politik dari keputusan dan pengelolaan sepakbola dengan mengadopsi kebijakan dan prosedur yang transparan dan profesional. Namun, karena kedua bidang ini tetap saling terkait, tantangannya adalah untuk memastikan bahwa politik tidak merusak integritas dan nilai-nilai dasar dan sportif dalam sepakbola.
“Sepakbola memang bukan lagi tentang sekedar permainan. Tidak melulu urusan menendang dan menyundul bola. Ada gairah lain didalamnya. Tentang identitats, juga ekonomi. Tak terkecuali politik. Sepakbola Indonesia pun demikian. Selalu dekat dengan politik.” Miftakhul F.S. ***